Antara Uang dan Kekayaan

            Malam yang sunyi, sepi dan senyap di sebuah gubuk kayu, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia hidup di dalamnya. Suara jangkrik mulai terdengar, pertanda malam semakin larut. Bulan yang bersinar terang diantara gelapnya langit malam, seolah menjadi lampu penerang bagi sang perajut mimpi ditengah tidur malamnya. Jika saja malam ini semua orang sudah sibuk merajut mimpi dialam bawah sadarnya, maka berbeda dengan seorang nenek ini yang tengah duduk menyepi di depan halaman gubuk kayu yang sudah lapuk termakan usia. 
Nenek Darmi :  ”Besok cucuku akan makan apa? Beras tak punya, lauk tak ada, uang
                          pun aku tak memiliknya. Ya Tuhan, malang sekali hidupku ini. Kasihan
                          cucuku harus ikut hidup menderita bersama denganku.”
Nenek Darmi, beliau adalah nenek berusia enam puluh tahun yang hidup bertiga dengan kedua cucunya, Laras. Suami beliau sudah lama meninggal dunia, sedangakan anaknya yang merupakan orang tua Laras juga sudah meninggal sejak lima tahun yang lalu karena kecelakaan. Jadilah Nenek Darmi yang bertanggung jawab mencari nafkah guna mengidupi cucu satu-satunya itu. Udara malam semakin dingin, Nenek Darmi akhirnya memutuskan untuk memasuki rumahnya, berjalan menuju kamar kedua cucu tersayangnya.
Nenek Darmi : (Mengelus rambut cucunya dengan lembut dan penuh
                           kasih sayang) “Nak, maafkan nenekmu ini yang tidak bisa membuat kalian
                           hidup bahagia seperti teman-teman kalian yang lainnya. Nenek janji,  mulai
                           besok nenek akan bekerja lebih keras lagi agar nenek bisa menghasilkan
                           uang untuk membahagiakan kamu, nak. Tidurlah yang nyenyak cucuku,
                           kelak jadilah orang yang berguna bagi nusa, bangsa, serta agamamu.
                           Hiduplah seperti batang padi yang semakin tua dan banyak isinya semakin
                           merunduk posisinya.”
            Nenek Darmi bekerja sebagai pembantu tumah tangga di rumah sepasang suami-istri yang kaya raya yang mempunyai satu anak perempuan. Sang istri merupakan ibu-ibu sosialita yang sangat mengikuti perkembangan zaman, sementara suaminya adalah seorang direktur di sebuah perusahaan ternama.
***
            Pagi itu Nenek Darmi baru saja menyelesaikan pekerjaannya, yaitu menyapu dan mengepel ruang tamu di rumah majikannya.
Nenek Darmi :  (Menyeka keringat yang menetes didahinya dengan tangan) “Alhamdulillah,
akhirnya selesai juga tugasku membersihkan ruangan ini. Setelah ini aku masih harus membersihkan dapur, padahal aku sudah lelah sekali, tapi tidak apa-apa aku harus tetap smangat untuk kedua cucuku.”
               Nenek Darmi pun akhirnya meninggalkan ruang tamu, dan segera bergegas melanjutkan tugasnya yaitu membersihkan dapur. Tidak lama kemudian datanglah Bu Endang, majikan Nenek Darmi menggunakan sepatunya yang penuh dengan lumpur memasuki ruang tamu yang baru saja dibersihkan oleh Nenek Darmi, dan duduk di sebuah kursi. Kemudian Bu Endang marah melihat lantai ruang tamu yang sangat kotor. Ia mengira Nenek Darmi tidak becus bekerja, namun ia tidak sadar bahwa sebenarnya ruangan itu kotor karena sepatunya sendiri.
Bu Endang      : (Marah) “Nenek tua! Kemarilah! Kau ini tuli  atau bagaimana? Aku tidak   
   menggajimu untuk bermalas-malasan saja!”
Nenek Darmi   : (Datang tergopoh-gopoh dari belakang) “Maaf nyonya, saya baru saja selesai
                           membersihkan dapur.”
Bu Endang      : “Aku tidak peduli! Lihatlah! Betapa kotornya ruangan ini! Kerja apa kau
                             seharian ini? Cepat bersihkan sekarang juga, sampai benar-benar bersih
Nenek Darmi   : “Tapi nyonya, ruangan ini baru saja saya sapu dan sudah saya pel juga.”
Bu Endang      : “Hei Nenek tua, berani sekali kau membantahku! Siapakah yang menjadi
                            tuan di rumah ini, kau atau aku hah?”
Nenek Darmi   : (Melirik pada sepatu majikannya yang kotor) “Maaf nyonya, sepertinya saya
                           telah mengetahui sesuatu apa yang membuat ruangan ini kotor.”
Bu Endang      : “Sesuatu seperti apakah itu?”
Nenek Darmi   : “Itu adalah sepatu nyonya, lihatlah sepatu anda yang kotor dan penuh
                            dengan lumpur yang menempel pada alas sepatu anda. Alangkah lebih baik  
                            bila nyonya melepas sepatu itu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam
                            ruangan agar ruangan ini tidak kotor.”
            Bu Endang lantas murka mendengar penuturan dari Nenek Darmi, ia pun menghentak-hentakkan kaki beserta sepatu yang dipakainya ke lantai dan serta-merta membuat ruangan itu menjadi sangat kotor
Bu Endang      : (Marah) “Hei Nenek tua! Apa-apaan ini! Bukankah rumah ini adalah
                             rumahku. Tidakkah kamu tau siapakah aku ini sebenarnyai? Aku ini tuan
                             rumah, Aku yang membayar gajimu, maka apapun yang aku perintahkan,
                             lakukan dengan benar!”
Nenek Darmi : (Menunduk) “Maaf nyonya, perintah nyonya akan saya laksanakan sekarang
                           juga.”
            Nenek Darmi pun mengulang pekerjaannya, beliau mulai menyapu dan mengepel ulang ruangan itu. Beberapa saat kemudian, datanglah suami Bu Endang dan anaknya.
Wati                : (Menatap ibunya heran) “Ibu ada apa? Kenapa ibu memarahi mbok Darmi?”
Bu Endang      : “Lihatlah dia berani sekali membantah ibu. Padahal ibu adalah majikannya.
    Bukankah uang yang ia pakai itu berasal dari uang ibu? Ibu yang menggaji
    dia!”
Wati               : “Benarkah? Wah, ibu ternyata bijaksana sekali. Memang, Nenek tua itu
     harusnya diperlakukan dengan keras, agar tidak bertindak seenaknya
     sendiri, setidaknya agar dia tahu bahwa posisinya disini hanyalah seorang
     pembantu.”
Bu Endang      : ”Kau dengar itu Nenek tua? Posisimu disini hanyalah sebagai pembantu!
     Pem-ban-tu!”
Pak Jaelani      : “Sudah-sudah. Kalian ini, ada-ada saja. Ayo Wat, sebaiknya kita lekas
                             berangkat agar tidak terlambat. Cepatlah pamit kepada ibumu!”
Wati                :  (Menyalami tangan Bu Endang, ibunya) “Baik Yah. Ibu, aku dan ayah akan
                            berangkat sekarang.”
Bu Endang      : “Ya sudah, hati-hati.”
            Ketiga orang itupun akhirnya meninggalkan ruangan, menyisakan Nenek Darmi yang masih mengulangi pekerjaannya dari awal untuk membersihkan ruang tamu.
***
            Keesokan harinya, Pak Jaelani mengajak istri dan anaknya untuk berjalan-jalan disekitar kompleks rumahnya.
Pak Jaelani      : “Ayah tahu kalian pasti lelah, duduklah dulu disini. Ayah juga tahu kalian
                           pasti haus kan? Maka dari itu akan pergi kesana sebentar membeli minuman
                           untuk kalian berdua.”
            Pak Jaelani pun akhirnya pergi membeli minuman. Beberapa menit kemudian, tidak jauh dari tempat Bu Endang dan Wati duduk, tampaklah seorang kakek tua renta yang sedang membawa beban berat berdiri disamping seorang anak perempuan muda seusia dengan Wati yang sedang memainkan ponselnya.
Kakek Tua       : “Aduh berat sekali barang bawaanku ini. Nak, bisakah kau membantuku
                            membawa barang-barang ini?"
Retno              : (Matanya memperhatikan sekilas kakek tua itu, kemudian matanya kembali
               fokus pada ponsel yang ia genggam)
Kakek Tua       : “Nak, tolonglah kakek sebentar. Jika kamu bersedia menolong kakek, kakek
                 akan memberikan imbalan apapun yang kamu minta.”
Retno              : (Menoleh dengan sombong) “Apa kau bilang? Imbalan? Hei! Kakek tua,
                           tidakkah kau lihat pakaian yang kenakan dan ponsel yang aku bawa ini? Aku
                           ini anak orang kaya, sedangkan kau? Lihatlah pakaianmu sendiri! Kumal,
                           kotor, dan compang-camping. Aku yakin, kau hanya makan satu kali sehari.
                           Itu pun kalau ada orang baik hati yang mau memberikanmu sebungkus roti
                          ataupun sesuap nasi untuk kau makan!”
Kakek Tua       : (Menggerutu) “Dasar anak muda zaman sekarang! Tidak sopan dan tidak ada
                           yang tau aturan seperti orang yang tidak pernah makan bangku sekolahan.”
Retno              : (Marah) “Apa katamu? Tidak pernah makan bangku sekolah?! Hei Pak Tua,
                          asal kau tahu aku ini anak orang kaya. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk
                          membeli kehidupanmu saja aku bisa!”
Kakek Tua       : (Diam sejenak) “Sepertinya dunia memang sudah akan kiamat. Lihatlah
                           dirimu anak muda. Kau begitu menyombongkan hartamu. Tidakkah kau tahu
                           bahwa harta itu bisa menjerumuskanmu ke dalam jurang keserakahan kalau
                           kau tidak bisa memanfaatkannya dengan baik?
Retno              : (Mendekati kakek tua itu kemudian mendorongnya) “Apa kau bilang? Tidak
                           sopan? Jaga bicaramu kakek tua! Kau ini siapa? Berani sekali orang miskin
                           seperti kamu mengejekku! Asal kau tahu, aku ini anak pejabat! Jangan
                           macam-macam denganku kakek tua!”
Kakek tua        : (Meringis kesakitan)
            Tidak lama kemudian, datanglah anak perempuan lain dengan pakaian sederhana mendekati kakek tua itu kemudian menolongnya.
Laras               : (Membantu kakek tua itu berdiri) Kakek tidak apa-apa kan?”
Kakek              : (Tersenyum) “Tidak apa-apa nak.”
Retno              : “Halah. Kalian ini, sudah seperti drama korea saja.”
Laras               : (Menatap Retno penasaran) “Ada apa ini sebenarnya, kenapa kamu
                            mendorong kakek ini? Apa kau tidak punya hati nurani? Lihatlah beliau,
                            sudah tua renta jalannya juga agak susah.”
Retno              : (Menatap Laras) “Halah kau ini juga sama saja. Tau apa kau ini? Sudahlah
                           tidak perlu ikut campur urusanku!”
Laras               : “Kamu memang bukan urusanku, satu-satunya urusanku disini adalah kakek
                             ini.”
Retno              : “Heh. Ya sudah. Sana pergi jauh-jauh dariku! Jangan kembali lagi! Dasar
                            orang miskin tidak tau diri. Bisa gatal badanku karena berdekatan dengan
                            orang miskin semacam kalian!”
Laras               : “Hei jaga bicaramu. Kami memang orang miskin dan kamu memang orang
                             kaya. Tapi aku rasa orang miskin dan orang kaya itu tidak ada bedanya.”
Retno              : “Tidak ada bedanya? Kau ini bicara apa? Jelas sekali kau dan aku sangat
                             berbeda. Mana mungkin orang kaya sepertiku disamakan dengan orang
                             miskin macam kalian berdua. Astaga. Apa kata dunia?”
Laras               : “Tapi apa kamu tahu? Suatu saat nanti, ketika kamu dan orang-orang yang
                             kaya lainnya mati, tidak akan ada bedanya dengan kita orang-orang miskin.
                             Kamu tahu kenapa? Karena kita akan dikubur didalam tanah yang sama,
                             memakai baju yang sama yaitu kain kafan berwarna putih. Ada pepatah
                             mengatakan “Jangan sombong dengan apa yang kamu miliki sekarang,
                             karena hidup itu antara Adzan dan Sholat. Saat lahir kita di Adzankan, dan
                             saat wafat kita di Sholatkan. Ingatlah bahwa hidup itu secapat Iqamat”
Retno              : (Pergi sambil menggerutu) “Dasar orang miskin banyak bicara, tidak banyak
                           harta.”
            Gadis sombong itu pun akhirnya pergi karena malu, tinggal lah sekarang Laras dan kakek tua itu.
Laras               : “Kakek tidak apa-apa kan?”
Kakek              : “Tidak apa-apa cu.”
Laras               : “Mari saya antarkan pulang kek, dan barang-barang ini biar saya bawakan.”
Kakek              : “Terimakasih cu, sungguh mulia hatimu. Semoga Allah membalas semua
                             amal kebaikanmu.”
Laras               : (Tersenyum) “Amin kek.”
            Laras pun akhirnya mengantarkan kakek tua itu pulang dan membantu kakek itu membawakan barang-barangnya. Disisi lain, Bu Endang dan Wati yang menyaksikan kejadian itu pun terdiam membisu. Mereka terenyuh melihat perlakuan anak perempuan kepada sang kakek tua.
Wati                : “Ibu, lihatlah. Betapa kurang ajarnya perlakuan anak itu kepada si kakek tua.
                           Padahal kakek tua itu hanya meminta bantuan kepada anak itu untuk
                           membawakan barangnya.”
Bu Edang        : (Menoleh kepada Wati) “Apa kamu mengenal anak perempuan itu?”
Wati                : “Iya ibu. Dia adalah Retno, teman sekolahku.”
Bu Endang      : “Apa kau tahu? Dia adalah anak teman ibu, nak. Ayahnya adalah pejabat
                            mahsyur di kota ini.”
Wati                : “Benarkah? Kalau memang dia anak seorang pejabat mahsyur, kenapa dia
                             malah bersikap seperti orang yang tidak mempunyai sopan-santun?
                             Tidakkah ibu lihat? Dia sama sekali tidak menghormati orang yang lebih
                             tua dari dia dan malah bersikap kurang ajar. Bukan berarti karena dia
                             memiliki banyak uang dan kekayaan yang berlimpah, maka dia bisa
                             bersikap seenaknya pada orang yang lebih tua dari dia. Apalagi orang yang
                             baru saja ia perlakukan semena-mena adalah seorang kakek yang sudah tua
                             renta.”
            Disela-sela pembicaraan antara Bu Endang dan Wati, tiba-tiba Pak Jaelani muncul dengan membawa dua botol air mineral.
Pak Jaelani      : (Menyerahkan dua botol air mineral itu kepada wati dan Bu Endang) “Benar,
                           nak. Dia adalah anak pejabat mahsyur di kota ini. Tapi nak, sebelum kamu
                           berbicara seperti itu, ada baiknya kalau kamu mengingat terlebih dahulu
                           sikap kamu dan ibumu kepada mbok Darmi tempo hari.”
Wati dan Bu Endang menerima botol berisi air mineral dari Pak Jaelani tapi tidak meminumnya. Keduanya mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Pak Jaelani sembari mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Pak jaelani       : “Nak. Tidakkah kamu tahu bahwa orang yang mempunyai banyak uang
                             belum tentu memiliki kekayaan?”
Wati                : “Tapi ayah, bukankah orang yang mempunyai banyak uang itu sudah pasti
                             juga memiliki kekayaan? Dia memiliki banyak harta, maka dia juga akan
                             berkuasa. Bukankah begitu Yah?”
Pak Jaelani      : “Tidak begitu nak. Tidak semua orang yang memiliki banyak uang itu kaya.
                             Ketahuilah, bahwa kekayaan yang sesungguhnya sebenarnya bukan berasal
                             dari materi tapi dari hati. Dan apa kamu tahu siapa gadis yang menolong
                             kakek tua itu?”
Wati                : (Menggaruk kepalanya, bingung) “Tidak ayah. Aku tidak mengenalnya. Tapi
                           bagaimana ayah bisa tahu semuanya?”
Pak jaelani       : “Sebenarnya ayah tadi memperhatikan kalian berdua dari jauh, dan sudah
                            melihat semuanya. Kau tahu nak? Gadis yang menolong kakek tua tadi
                            adalah Laras, cucu mbok Darmi.”
            Mendengar penuturan Pak Jaelani, Bu Endang dan Wati pun semakin terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka akan mengalami peristiwa serumit ini dalam kehidupan.
Bu Endang      : “Benarkah?”
Pak Jaelani      : “Benar bu. Mbok Darmi hanya hidup berdua dengan cucunya. Kehidupan
                             mereka memang sederhana, bahkan bisa dikatakan bahwa mereka orang
                             yang tidak punya. Tapi apa kalian melihat bagaimana sikap cucu mbok
                             Darmi tadi? Ayah berharap kalian bisa belajar banyak dari dia.”
Wati                : (Menunduk)  “Iya ayah, Wati minta maaf.”
Bu Endang      : “Ibu juga minta maaf. Sebagai orang tua seharusnya ibu bisa mencontohkan
                            hal-hal yang baik untuk Wati, tapi ibu malah mencontohkan hal-hal buruk
                            seperti ini.”
Pak Jaelani      : “Tidak apa-apa bu, sudah kodratnya bahwa manusia itu memang tempatnya
                            salah dan lupa. Tugas kita sesama manusia hanyalah saling mengingatkan
                            apabila ada yang berbuat salah. Apalagi kita keluarga, sudah kewajiban kita
                            untuk membenarkan apa yang salah, dan meluruskan apa yang sudah benar.
                            Ya sudah kalau begitu sekarang mari kita pulang ke rumah.”
            Mereka bertiga pun akhirnya pulang menuju rumah dengan hati yang sudah lega. Wati dan Bu Endang menyadari kesalahannya, mereka berjanji kepada Pak Jaelani bahwa mereka tidak akan mengulangi perbuatan seperti itu lagi. Bagaimanapun juga ibu dan anak itu menyesal karena telah berbuat sedemikian jahatnya kepada mbok Darmi.
***
            Saat tiba di halaman rumah, mereka sengaja tidak langsung masuk ke dalam rumah karena ingin menemui mbok Darmi yang kebetulan sedang menyapu halaman.
Bu Endang      : “Mbok Darmi!”
Nenek Darmi   : (Gugup) “I...iya nyonya ada apa? Apa saya membuat kesalahan lagi?”
Wati                : (Tersenyum) “Tidak mbok, justru kami kemari untuk meminta maaf kepada
                            mbok Darmi.”
Nenek Darmi   : (Terkejut) “Loh. Tapi saya tidak pernah merasa nyonya dan non Wati
                            melakukan kesalahan.”
Bu Endang      : “Mbok Darmi, kami berdua minta maaf atas perlakuan kami terhadap mbok
                            Darmi tempo hari.”
Nenek Darmi   : “Oh yang itu. Tidak apa-apa nyonya, tidak apa-apa non Wati, saya sudah
                             memaafkannya. Lagi pula waktu itu saya juga salah.”
Wati                : “Terimakasih mbok, karena mbok Darmi, Wati akhirnya mengerti
                              bahwa ‘Setinggi apapun pangkat yang Wati dapati, se-terhormat apapun
                              pangkat yang Wati duduki, dan sebanyak apapun uang yang Wati miliki,
                              Wati tidak akan bisa membeli kekayaan dengan apa yang Wati miliki
                              sekarang. Kekayaan sesungguhnya bukan berasal dari materi melainkan
                              dari hati, bukan tentang apa yang Wati punya tapi apa yang Wati lakukan
                              untuk memuliakan orang tua dan bagaimana cara Wati memperlakukan
                              orang yang lebih tua.”
Mbok Darmi tersenyum, seketika Wati dan Bu Endang memeluk mbok Darmi. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama, namun sebelum itu mereka melepas sepatu terlebih dahulu kemudian meletakkannnya di tempat yang seharusnya untuk meringankan pekerjaan mbok Darmi.